Pasca Bunda dan Abi kecelakaan, suasana rumah semakin tak terkendali.
Minggu, 15 Februari 2009
Langit kota impian sudah hampir gelap, Pakdhe dan Budhe datang untuk menjenguk Bunda yang habis kecelakaan dan beberapa tulang engsel kaki yang retak, Budhe duduk di kamar Bunda, Pakdhe duduk di kamar Uti, si remaja tanggung dan Abi duduk di ruang keluarga. Sebelumnya suasana sedikit terkendal, hingga suasan semakin tak terkendali setelah Uti meksa minta pindah ke Rumah Utama. Rumah Uti sebelum tahun 1982 pindah ke rumah si remaja tanggung dan sekarang ditempati Pakdhe dan Budhe.
Pakdhe pindah duduk disebelah remaja tanggung dan bicara sama Abi kalau Uti minta dibawa ke Rumah Utama. Abi hanya diam. Setelah itu Pakdhe bilang ke Bunda hal yang sama seperti apa yang dibilang Pakdhe ke Abi tadi, dari kamar Bunda menjawab,
“Ya gak usah dituruti, biar disini saja. Mungkin aku masih sakit, tapi aku masih bisa sedikit-sedikit ngrawat Ibu,kan juga nanti dibantu Wiwik sama Nita”,Kata Bunda kepada Pakdhe.
“Tapi Ibu minta sekarang pindahnya”,Balas Pakdhe
“Nanti kalau Ibu dibawa kerumah, mau ditidurkan dimana?”,Timpa Budhe.
Ya allah...terkesan sekali kalau Budhe yang hanya menantu keluarga mendominasi. Sangat tidak sopan bicara begitu di depan anggota keluarga besar.
“Kalau gitu janji aja ke Ibu kalau masih dibuatkan kamar”,Kata Bunda
“Kalau ada yang kurang nanti, aku tak mau disalahkan”,Susul Budhe sambil keluar dari kamar Bunda
Tanpa bilang apa-apa, Pakdhe pulang untuk memanggil Lukman, anak terakhirnya guna membantu memindahkan Uti ke Rumah Utama. Uti sudah 4 tahun lumpuh setelah jatuh di kamar mandi saat ingin mengambil air wudhu untuk sholat Tahajud.
Pakdhe dan Lukman datang, dan mulai memindahkan Uti ke kursi..Uti yang sudah siap dengan membawa barang bawaannya yang dibungkus kantong plastik.
“Le, aku pulang ke utara,maaf kalau punya salah”,Hati si remaja tanggung trenyuh mendengar kata-kata Uti tadi
Semakin menjadi-jadi kegelisahan si remaja tanggung, remaja tanggung mendekati Abi
“Bi, jangan bolehin Uti dibawa”,Kata si remaja tanggung
Abi hanya diam, lalu remaja tanggung lari ke ruang tamu,disana ada Nita,remaja tanggung bilang ke Nita kalau Uti mau dibawa,Nita pun hanya diam. Dan remaja tanggung juga bilang ke Bunda untuk jangan bolehin Uti dibawa.
“Ya biar, kan itu semua kemuan Uti-mu sendiri”,kata Bunda kepada si remaja tanggung
Remaja tanggung dengan gundah mengantar Uti-nya dibawa ke Rumah Utama. Sangat –sangat menyiksa hati saat si remaja tanggung mendengar kata-kata Uti.
“Aku tidurin di kandang saja, kalau tidak ada kamar”,Kata Uti saat dalam perjalanan menuju Rumah Utama.
Jatuh air mata si remaja tanggung mendengar kata-kata itu.
Hari demi hari berlalu, tiap sore si remaja tanggung datang ke Rumah Utama membawa makanan untuk menyuapi Uti. Dan tiap pagi Wiwik ke Rumah Utama untuk mamandikan Uti.
Minggu, 1 Maret 2009
Seperti biasa remaja tanggung membawa makanan ke Rumah Utama.
“Le, kemarin kok bukan kamu yang antar makanan?, Katanya kamu Istigosah ya?”,Kata Uti
“Iya, soalnya sebentar lagi UAN”,Timpa si remaja tanggung
“TI, nih aku bawa MP3 Player, tadi baru dapet hadiah waktu Tryout di Primagama karena aku hari ini ulang tahun”,tunjuk si remaja tanggung pada Uti yang hanya membalas dengan senyum
“Ya udah, kalau gitu banyak-banyak sholat”,ujar Uti
Remaja tanggung tak sengaja melihat reffil Wipol dibawah ranjang Uti
Rabu, 4 Maret 2009
Hari ini remaja tanggung pulang sekolah lebih awal, dia sudah berencana untuk membawa makanan ke Rumah Utama. Setelah sampai, remaja tanggung mengambil air minum untuk Uti seperti yang biasa dia kerjakan saat ingin menyuapi Uti-nya
Tak seperti biasanya Uti si remaja tanggung hanya mau makan sedikit, hanya beberapa suap saja.
Remaja tanggung pun pulang, dirumah si remaja tanggung bilang ke Bunda kalau Uti tak mau makan.
“Besok tak buatin agar-agar aja”,ujar Bunda pada remaja tanggung
Kamis, 5 Maret 2009 (06.00 a.m.)
Pagi-pagi Pakdhe ke rumah, bilang kalau Uti udah gak mau makan. Dengan susah payah Bunda yang kakinya masih sakit pergi ke Rumah Utama untuk melihat keadaan Uti. Disana dengan mata berkaca-kaca Bunda bilang ke Uti.
“Bu, ayo pulang(ke rumah remaja tanggung.red)”,pinta Bunda pada Uti
“Gak usah”,Jawab Bunda
Keadaan Uti waktu itu sangat-sangat memprihatinkan, dokter dipanggil ke Rumah Utama. Remaja tanggung pun berjalan pulang untuk mempersiapkan sekolah. Perasaan remaja tanggung saat itu sangat-sangat tidak nyaman. Dia selalu terfikir Uti-nya.
Kamis, 5 Maret 2009 (12.30 p.m.)
Sepulang dari sekolah, si remaja tanggung menjenguk Uti. Dia datang dengan Wiwik, air mata tak terbendung saat melihat keadaan Uti yang semakin parah, Uti sedikit-sedikit menunjukan ekspresi kesakitan. Sambil mengusap-usap dahi Uti, si remaja tanggung menangis, dalam hatinya bilang “ayo pulang,ti....”.
Setelah beberapa menit menemani Uti-nya. Remaja tanggung beranjak pulang kembali ke rumah, karena kelelahan remaja tanggung tidur-tiduran.
Kamis, 5 Maret 2009 (16.30 p.m.)
Pintu kamar remaja tanggung di gedor-gedor sama Bunda. Si remaja tanggung terbangun dengan gelisah. Stigma buruk mulai berkecambuk di dalam diri remaja tanggung. Dengan tergesa-gesa, remaja tanggung lari ke Rumah Utama. Disana sudah berkumpul pada sanak saudara, tak terlihat Pakdhe disana. Belakangan ini diketahui bahwa saat remaja tanggung datang, Pakdhe sedang mencari tempat di pemakaman umum. Sungguh insting yang tajam.
Uti berbaring sekarat dijemput maut, Bunda disebelah Uti sambil membisikkan syahadat, Pakdhe, Abi, dan para saudara besar membaca Surat yasin di sisi lain posisi Uti. Remaja tanggung gelisah melihat Uti-nya. Keluar masuk kamar dengan perasaan bercampur aduk. Air mata tak tertahankan menetes dari mata si remaja tanggung.
Dalam hati remaja tanggung berdo’a.
“Ti...jangan sekarang(meninggal.red). Ayo pulang kerumah dulu, setelah itu meninggallah dirumah”,kata remaja tanggung berulang-ulang dalam hati.
Azan magrib berkumandang, perasaan remaja tanggung semakin tak terbendung, saat azan magrib berakhir, berakhir juga ayat dalam Surat Yasin dan berakhir pula nafas Uti.
Dalam kamar Bunda tiba-tiba menangis kencang, remaja tanggung beranjak melihat apa yang terjadi. Air mata remaja tanggung terurai lepas melihat sosok Uti-nya yang terbujur kaku. Tak sanggup untuk menahan goncangan diri, lunglai lepas si remaja tanggung jatuh ke lantai...(tak tahu aq apa yang terjadi setelah pingsan itu)
In Memoriam...
Uti adalah sosok nenek yang sangat berharga bagiku..kenangan-kenangan bersama Uti akan terangkum dalam memori indah di dalam hatiku. Uti sudah tinggal dirumahku sejak 24tahun lalu, atau sebelum aku lahir. Setelah 19 tahun 6 hari aku bersama Uti, banyak sekali pelajaran yang aku dapat. Dulu waktu aku masih umur 3-4tahun-an, aku sering diajak Uti jalan-jalan ke depan gang kampungku hanya untuk membeli segelas teh hangat. Itu hampir setiap hati sampai aq sekolah TK.. karena memang aku adalah cucu terakhirnya, jadi aku sedikit dimanja..
Tak ada yang lebih indah di masa kecilku selain kenangan dengan Uti, waktu aku masih kecil, Uti selalu ada untukku, setiap Bunda marah sama aku, Uti selalu bela aku...
Uti sayangku....aku sekarang sudah lulus ujian, dan sekarang sudah berkerja...Uti sayangku...maaf kalau aku punya salah, maaf juga aku sekarang tak bisa selalu mengunjungi uti waktu malam Jum’at legi. Aku selalu berdo’a agar Uti diterima di sisi Allah yang maha kuasa.
UTI SAYANGKU....LELAP..LELAP..DAN DAMAILAH DALAM TIDUR PANJANGMU...RENDY SAYANG UTI...
Minggu, 15 Februari 2009
Langit kota impian sudah hampir gelap, Pakdhe dan Budhe datang untuk menjenguk Bunda yang habis kecelakaan dan beberapa tulang engsel kaki yang retak, Budhe duduk di kamar Bunda, Pakdhe duduk di kamar Uti, si remaja tanggung dan Abi duduk di ruang keluarga. Sebelumnya suasana sedikit terkendal, hingga suasan semakin tak terkendali setelah Uti meksa minta pindah ke Rumah Utama. Rumah Uti sebelum tahun 1982 pindah ke rumah si remaja tanggung dan sekarang ditempati Pakdhe dan Budhe.
Pakdhe pindah duduk disebelah remaja tanggung dan bicara sama Abi kalau Uti minta dibawa ke Rumah Utama. Abi hanya diam. Setelah itu Pakdhe bilang ke Bunda hal yang sama seperti apa yang dibilang Pakdhe ke Abi tadi, dari kamar Bunda menjawab,
“Ya gak usah dituruti, biar disini saja. Mungkin aku masih sakit, tapi aku masih bisa sedikit-sedikit ngrawat Ibu,kan juga nanti dibantu Wiwik sama Nita”,Kata Bunda kepada Pakdhe.
“Tapi Ibu minta sekarang pindahnya”,Balas Pakdhe
“Nanti kalau Ibu dibawa kerumah, mau ditidurkan dimana?”,Timpa Budhe.
Ya allah...terkesan sekali kalau Budhe yang hanya menantu keluarga mendominasi. Sangat tidak sopan bicara begitu di depan anggota keluarga besar.
“Kalau gitu janji aja ke Ibu kalau masih dibuatkan kamar”,Kata Bunda
“Kalau ada yang kurang nanti, aku tak mau disalahkan”,Susul Budhe sambil keluar dari kamar Bunda
Tanpa bilang apa-apa, Pakdhe pulang untuk memanggil Lukman, anak terakhirnya guna membantu memindahkan Uti ke Rumah Utama. Uti sudah 4 tahun lumpuh setelah jatuh di kamar mandi saat ingin mengambil air wudhu untuk sholat Tahajud.
Pakdhe dan Lukman datang, dan mulai memindahkan Uti ke kursi..Uti yang sudah siap dengan membawa barang bawaannya yang dibungkus kantong plastik.
“Le, aku pulang ke utara,maaf kalau punya salah”,Hati si remaja tanggung trenyuh mendengar kata-kata Uti tadi
Semakin menjadi-jadi kegelisahan si remaja tanggung, remaja tanggung mendekati Abi
“Bi, jangan bolehin Uti dibawa”,Kata si remaja tanggung
Abi hanya diam, lalu remaja tanggung lari ke ruang tamu,disana ada Nita,remaja tanggung bilang ke Nita kalau Uti mau dibawa,Nita pun hanya diam. Dan remaja tanggung juga bilang ke Bunda untuk jangan bolehin Uti dibawa.
“Ya biar, kan itu semua kemuan Uti-mu sendiri”,kata Bunda kepada si remaja tanggung
Remaja tanggung dengan gundah mengantar Uti-nya dibawa ke Rumah Utama. Sangat –sangat menyiksa hati saat si remaja tanggung mendengar kata-kata Uti.
“Aku tidurin di kandang saja, kalau tidak ada kamar”,Kata Uti saat dalam perjalanan menuju Rumah Utama.
Jatuh air mata si remaja tanggung mendengar kata-kata itu.
Hari demi hari berlalu, tiap sore si remaja tanggung datang ke Rumah Utama membawa makanan untuk menyuapi Uti. Dan tiap pagi Wiwik ke Rumah Utama untuk mamandikan Uti.
Minggu, 1 Maret 2009
Seperti biasa remaja tanggung membawa makanan ke Rumah Utama.
“Le, kemarin kok bukan kamu yang antar makanan?, Katanya kamu Istigosah ya?”,Kata Uti
“Iya, soalnya sebentar lagi UAN”,Timpa si remaja tanggung
“TI, nih aku bawa MP3 Player, tadi baru dapet hadiah waktu Tryout di Primagama karena aku hari ini ulang tahun”,tunjuk si remaja tanggung pada Uti yang hanya membalas dengan senyum
“Ya udah, kalau gitu banyak-banyak sholat”,ujar Uti
Remaja tanggung tak sengaja melihat reffil Wipol dibawah ranjang Uti
Rabu, 4 Maret 2009
Hari ini remaja tanggung pulang sekolah lebih awal, dia sudah berencana untuk membawa makanan ke Rumah Utama. Setelah sampai, remaja tanggung mengambil air minum untuk Uti seperti yang biasa dia kerjakan saat ingin menyuapi Uti-nya
Tak seperti biasanya Uti si remaja tanggung hanya mau makan sedikit, hanya beberapa suap saja.
Remaja tanggung pun pulang, dirumah si remaja tanggung bilang ke Bunda kalau Uti tak mau makan.
“Besok tak buatin agar-agar aja”,ujar Bunda pada remaja tanggung
Kamis, 5 Maret 2009 (06.00 a.m.)
Pagi-pagi Pakdhe ke rumah, bilang kalau Uti udah gak mau makan. Dengan susah payah Bunda yang kakinya masih sakit pergi ke Rumah Utama untuk melihat keadaan Uti. Disana dengan mata berkaca-kaca Bunda bilang ke Uti.
“Bu, ayo pulang(ke rumah remaja tanggung.red)”,pinta Bunda pada Uti
“Gak usah”,Jawab Bunda
Keadaan Uti waktu itu sangat-sangat memprihatinkan, dokter dipanggil ke Rumah Utama. Remaja tanggung pun berjalan pulang untuk mempersiapkan sekolah. Perasaan remaja tanggung saat itu sangat-sangat tidak nyaman. Dia selalu terfikir Uti-nya.
Kamis, 5 Maret 2009 (12.30 p.m.)
Sepulang dari sekolah, si remaja tanggung menjenguk Uti. Dia datang dengan Wiwik, air mata tak terbendung saat melihat keadaan Uti yang semakin parah, Uti sedikit-sedikit menunjukan ekspresi kesakitan. Sambil mengusap-usap dahi Uti, si remaja tanggung menangis, dalam hatinya bilang “ayo pulang,ti....”.
Setelah beberapa menit menemani Uti-nya. Remaja tanggung beranjak pulang kembali ke rumah, karena kelelahan remaja tanggung tidur-tiduran.
Kamis, 5 Maret 2009 (16.30 p.m.)
Pintu kamar remaja tanggung di gedor-gedor sama Bunda. Si remaja tanggung terbangun dengan gelisah. Stigma buruk mulai berkecambuk di dalam diri remaja tanggung. Dengan tergesa-gesa, remaja tanggung lari ke Rumah Utama. Disana sudah berkumpul pada sanak saudara, tak terlihat Pakdhe disana. Belakangan ini diketahui bahwa saat remaja tanggung datang, Pakdhe sedang mencari tempat di pemakaman umum. Sungguh insting yang tajam.
Uti berbaring sekarat dijemput maut, Bunda disebelah Uti sambil membisikkan syahadat, Pakdhe, Abi, dan para saudara besar membaca Surat yasin di sisi lain posisi Uti. Remaja tanggung gelisah melihat Uti-nya. Keluar masuk kamar dengan perasaan bercampur aduk. Air mata tak tertahankan menetes dari mata si remaja tanggung.
Dalam hati remaja tanggung berdo’a.
“Ti...jangan sekarang(meninggal.red). Ayo pulang kerumah dulu, setelah itu meninggallah dirumah”,kata remaja tanggung berulang-ulang dalam hati.
Azan magrib berkumandang, perasaan remaja tanggung semakin tak terbendung, saat azan magrib berakhir, berakhir juga ayat dalam Surat Yasin dan berakhir pula nafas Uti.
Dalam kamar Bunda tiba-tiba menangis kencang, remaja tanggung beranjak melihat apa yang terjadi. Air mata remaja tanggung terurai lepas melihat sosok Uti-nya yang terbujur kaku. Tak sanggup untuk menahan goncangan diri, lunglai lepas si remaja tanggung jatuh ke lantai...(tak tahu aq apa yang terjadi setelah pingsan itu)
In Memoriam...
Uti adalah sosok nenek yang sangat berharga bagiku..kenangan-kenangan bersama Uti akan terangkum dalam memori indah di dalam hatiku. Uti sudah tinggal dirumahku sejak 24tahun lalu, atau sebelum aku lahir. Setelah 19 tahun 6 hari aku bersama Uti, banyak sekali pelajaran yang aku dapat. Dulu waktu aku masih umur 3-4tahun-an, aku sering diajak Uti jalan-jalan ke depan gang kampungku hanya untuk membeli segelas teh hangat. Itu hampir setiap hati sampai aq sekolah TK.. karena memang aku adalah cucu terakhirnya, jadi aku sedikit dimanja..
Tak ada yang lebih indah di masa kecilku selain kenangan dengan Uti, waktu aku masih kecil, Uti selalu ada untukku, setiap Bunda marah sama aku, Uti selalu bela aku...
Uti sayangku....aku sekarang sudah lulus ujian, dan sekarang sudah berkerja...Uti sayangku...maaf kalau aku punya salah, maaf juga aku sekarang tak bisa selalu mengunjungi uti waktu malam Jum’at legi. Aku selalu berdo’a agar Uti diterima di sisi Allah yang maha kuasa.
UTI SAYANGKU....LELAP..LELAP..DAN DAMAILAH DALAM TIDUR PANJANGMU...RENDY SAYANG UTI...
0 Tanggapan:
Posting Komentar
Jangan lupa abis baca tinggalin komennya ya broo...